Jumat, 03 Februari 2012

Kewajiban Taat pada Pemimpin


TAAT PADA PEMIMPIN SELAIN PERKARA MAKSIAT



[Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah: Dasar-dasar Aqidah Menurut Ulama Salaf jilid 2, Abdul Akhir Hammad Al-Ghunaimi, penterjemah: Ustadz Abu Umar Basyir Al-Maidani, Pustaka At-Tibyan Solo]

[92 - 84] Beliau berkata: (Kita juga tidak membolehkan memberontak terhadap pemimpin-pemimpin dan ulul amri kita, meskipun mereka berbuat lalim. Kita tidak menyumpahi mereka dan tidak berlepas diri dengan tidak taat kepada mereka. Kita berkeyakinan bahwa mentaati mereka sepanjang dalam ketaatan kepada Allah adalah wajib, selama mereka tidak menyuruh berbuat maksiat. Kita tetap mendoakan kebaikan untuk mereka dan agar mereka dikaruniai kebaikan baik jasmani maupun rohani.)

Footnote: [Satu hal yang gamblang, bahwa pendapat ini hanya berlaku bagi pemimpin muslim yang berbuat zhalim dan lalim, namun ia hanya menggunakan syariat yang dibawa oleh Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam. Namun bila pemimpin itu telah kafir, boleh (kita) memberontak kepadanya. Lihat "Fathul Bari"(XIII : 124) dan "Syarah Muslim" oleh An-Nawawi (XII : 229)]

Keterangan:

Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan taatilah Rasul. Nya), serta ulil amri di antara kamu." (An-Nisaa' : 59)

Dalam hadits shahih, dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda:

"Barangsiapa yang mentaatiku berarti dia mentaati Allah Barangsiapa yang mendurhakaiku berarti mendurhakai Allah. Barangsiapa yang mentaati pemimpin, berarti mentaatiku. Barang siapa yang mendurhakai pemimpinnya, berarti mendurhakaiku." [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (2957), Muslim (1835), An-Nasa'i (4193) dan Ibnu Majah (3), (2859) dari hadits Abu Hurairah.]

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim juga disebutkan:

"Seorang muslim harus siap mendengar dan taat, baik suka maupun tidak. Kecuali bila diperintah untuk bermaksiat. Bila ia diperintah untuk bermaksiat, tak ada lagi istilah mendengar dan taat." [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (2955), Muslim (1839), Abu Dawud (2626), AS. Tirmidzi (1707), An Nasa'i (4206) dan Ibnu Majah (2864) dari hadits Ibnu Umar]

Dari Auf bin Malik Radhiallahu 'Anhu, dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:

"Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian doakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Sejahat-jahatnya pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, yang kalian sumpahi dan mereka menyumpahi kalian." Kami bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah saat itu kami boleh menggugat mereka dengan pedang?" Beliau menjawab: "Tidak, selama mereka masih shalat bersama kalian. Ingatlah, barangsiapa yang melihat pemimpinnya berbuat maksiat, hendaknya ia membenci kemaksiatannya itu, namun jangan ia mencuci tangan (berlepas diri) dari mentaatinya." [Dikeluarkan oleh Muslim (1855) dan Ahmad (VI: 24)

Al-Qur'an dan As-Sunnah telah menunjukkan wajibnya mentaati para pemimpin, selama mereka tak menyuruh berbuat maksiat. Camkanlah firman Allah:

"Taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu..'" (An-Nisaa' : 59)

Allah menfirmankan: "Dan taatilah Rasul.." namun tidak menyatakan: "Dan taatilah pemimpin-pemimpin di antara kamu.."? Karena para pemimpin itu tidak ditaati secara menyendiri. Akan tetapi ditaati selama itu juga dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Perintah untuk taat itu diulangi kepada Rasul-Nya, karena mentaati Rasul berarti juga mentaati Allah. Karena Rasul tak akan memerintahkan untuk bermaksiat. Justru beliau terpelihara dari perbuatan itu. Adapun para pemimpin, terkadang mereka memerintahkan bukan untuk taat kepada Allah. Maka mereka hanya ditaati selama memerintahkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Adapun keharusan untuk mentaati mereka (bukan dalam maksiat) meskipun mereka berbuat zhalim disyariatkan, karena keluar dari ketaatan kepada mereka akan melahirkan kerusakan yang berlipat-lipat dibandingkan kezhaliman mereka sendiri. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan dapat melipat gandakan pahala. Karena Allah tak akan menguasakan mereka atas diri kita melainkan disebabkan kerusakan amal perbuatan kita juga. Ganjaran itu bergantung pada amal perbuatan. Maka hendaknya kita bersungguh-sungguh memohon ampunan, bertaubat dan memperbaiki amal perbuatan.

Allah berfirman:

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (Asy-Syuraa : 30)

Dan Allah juga berfirman

"Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan." (Al-An'am: 129)

Apabila rakyat ingin selamat dari kezhaliman pemimpin mereka, hendaknya mereka meninggalkan kezhaliman itu juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar