TAAT PADA PEMIMPIN SELAIN PERKARA MAKSIAT
[Tahdzib
Syarh Ath-Thahawiyah: Dasar-dasar Aqidah Menurut Ulama Salaf jilid 2, Abdul
Akhir Hammad Al-Ghunaimi, penterjemah: Ustadz Abu Umar Basyir Al-Maidani,
Pustaka At-Tibyan Solo]
[92
- 84] Beliau berkata: (Kita juga tidak membolehkan memberontak terhadap
pemimpin-pemimpin dan ulul amri kita, meskipun mereka berbuat lalim. Kita tidak
menyumpahi mereka dan tidak berlepas diri dengan tidak taat kepada mereka. Kita
berkeyakinan bahwa mentaati mereka sepanjang dalam ketaatan kepada Allah adalah
wajib, selama mereka tidak menyuruh berbuat maksiat. Kita tetap mendoakan
kebaikan untuk mereka dan agar mereka dikaruniai kebaikan baik jasmani maupun
rohani.)
Footnote:
[Satu hal yang gamblang, bahwa pendapat ini hanya berlaku bagi pemimpin muslim
yang berbuat zhalim dan lalim, namun ia hanya menggunakan syariat yang dibawa
oleh Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam. Namun bila pemimpin itu telah kafir,
boleh (kita) memberontak kepadanya. Lihat "Fathul Bari"(XIII : 124)
dan "Syarah Muslim" oleh An-Nawawi (XII : 229)]
Keterangan:
Allah
berfirman:
"Hai
orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan taatilah Rasul. Nya), serta ulil
amri di antara kamu." (An-Nisaa' : 59)
Dalam
hadits shahih, dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau
bersabda:
"Barangsiapa
yang mentaatiku berarti dia mentaati Allah Barangsiapa yang mendurhakaiku
berarti mendurhakai Allah. Barangsiapa yang mentaati pemimpin, berarti
mentaatiku. Barang siapa yang mendurhakai pemimpinnya, berarti
mendurhakaiku." [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (2957), Muslim (1835),
An-Nasa'i (4193) dan Ibnu Majah (3), (2859) dari hadits Abu Hurairah.]
Dalam
Shahih Al-Bukhari dan Muslim juga disebutkan:
"Seorang
muslim harus siap mendengar dan taat, baik suka maupun tidak. Kecuali bila
diperintah untuk bermaksiat. Bila ia diperintah untuk bermaksiat, tak ada lagi
istilah mendengar dan taat." [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (2955), Muslim
(1839), Abu Dawud (2626), AS. Tirmidzi (1707), An Nasa'i (4206) dan Ibnu Majah (2864)
dari hadits Ibnu Umar]
Dari
Auf bin Malik Radhiallahu 'Anhu, dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:
"Sebaik-baik
pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian
doakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Sejahat-jahatnya pemimpin kalian
adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian, yang kalian sumpahi dan
mereka menyumpahi kalian." Kami bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah
saat itu kami boleh menggugat mereka dengan pedang?" Beliau menjawab: "Tidak,
selama mereka masih shalat bersama kalian. Ingatlah, barangsiapa yang melihat
pemimpinnya berbuat maksiat, hendaknya ia membenci kemaksiatannya itu, namun
jangan ia mencuci tangan (berlepas diri) dari mentaatinya." [Dikeluarkan
oleh Muslim (1855) dan Ahmad (VI: 24)
Al-Qur'an
dan As-Sunnah telah menunjukkan wajibnya mentaati para pemimpin, selama mereka
tak menyuruh berbuat maksiat. Camkanlah firman Allah:
"Taatilah
Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu..'"
(An-Nisaa' : 59)
Allah
menfirmankan: "Dan taatilah Rasul.." namun tidak menyatakan:
"Dan taatilah pemimpin-pemimpin di antara kamu.."? Karena para
pemimpin itu tidak ditaati secara menyendiri. Akan tetapi ditaati selama itu
juga dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Perintah untuk taat itu
diulangi kepada Rasul-Nya, karena mentaati Rasul berarti juga mentaati Allah.
Karena Rasul tak akan memerintahkan untuk bermaksiat. Justru beliau terpelihara
dari perbuatan itu. Adapun para pemimpin, terkadang mereka memerintahkan bukan
untuk taat kepada Allah. Maka mereka hanya ditaati selama memerintahkan
ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Adapun keharusan untuk mentaati mereka
(bukan dalam maksiat) meskipun mereka berbuat zhalim disyariatkan, karena
keluar dari ketaatan kepada mereka akan melahirkan kerusakan yang
berlipat-lipat dibandingkan kezhaliman mereka sendiri. Bahkan bersabar terhadap
kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan dapat melipat gandakan pahala.
Karena Allah tak akan menguasakan mereka atas diri kita melainkan disebabkan
kerusakan amal perbuatan kita juga. Ganjaran itu bergantung pada amal
perbuatan. Maka hendaknya kita bersungguh-sungguh memohon ampunan, bertaubat
dan memperbaiki amal perbuatan.
Allah
berfirman:
"Dan
apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan
tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu)." (Asy-Syuraa : 30)
Dan
Allah juga berfirman
"Dan
demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman
bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan." (Al-An'am:
129)
Apabila
rakyat ingin selamat dari kezhaliman pemimpin mereka, hendaknya mereka
meninggalkan kezhaliman itu juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar